Hari ini Jum’at 14 Maret 2014 di Pemakaman umum desa ************** Kecamatan Ciawi Kab. Tasikmalaya.

Dari 11 orang yang berada di pemakaman ini didominasi oleh wanita-wanita renta,

Pertama seorang wanita umur 70an, istri dari orang terpandang di desa ini, dia datang sendirian dengan berbekal Bungan dan air. Tidak ada anak ataupun cucu menemaninya tapi dia masih terlihat bugar untuk berjalan sendiri tanpa bantuan siapapun.

Kedua adalah ibu-ibu umur antara 60-70 tahun, sudah sedikit kesusahan berjalan namun seperti wanita pertama dia juga datang sendirian tanpa di temani anak, cucu ataupun sanak saudara.

Wanita ketiga adalah seorang ibu-ibu umur 60an kurang faham silsilah keluarganya tapi yg jelas tidak ada suami yang dikuburkan disini karena suaminya orang Cirebon dan dikuburkan disana. Namun dia terlihat sangat rajin membersihkan jalan sepanjang jalan masuk menuju pmekaman, ia sendirian, ibu-ibu ini seorang diri membersihkan jalan tersebut. Dan lebih membuatku trenyuh lagi, oleh sebagian orang kapung ibu ini dikenal memiliki tabiat yang aneh, maaf “sedikit kurang” tapi tidak gila (maaf).

Wanita ke empat ini yang paling membuat saya haru, seorang ibu umur 70tahunan suaminya meninggal karena stroke dan ia pun sekarang sedang mengalami stroke. Dia kesulitan untuk berjalan namun dengan sisa tenaga yang ia muliki dan sebuah dorongan untuk menemui jasad suaminya ibu ini tertatih-tatih berjalan sepanjang +/- 3 km dengan kontur tananh yang naik turun menuju pmekaman ini. Yang lebih mengharukan lagi, setelah dia selesai membersihkan dan berdoa di pusara suaminya dia sempatkan membersihkan beberapa pemakaman yang ada disekitar pusara suaminya, dan saya sangat yakin pusara sekitar suaminya itu bukanlah keluarganya. Karena setahu saya ibu ini pindahan dari kampong sebelah beberapa tahun lalu sebelum suaminya meninggal.

Wanita ke lima – Sembilan adalah istri anak dan orang yg suka bantu2 di rumahku.

Dari apa yang aku lihat pagi itu disaat air hujan rintik mengguyur tanah pemakaman  tak sedikitpun menggoyahkan langkah ke empat wanita renta yang sangat merindukan sosok suaminya.

Dari informasi yang saya dapat dari juru kunci makan setiap hari jumat pasti ibu-ibu itu tidak pernah absen datang mengunjungi pusara suami mereka, seandainya mereka tidak datang bias dipastikan karena sakit.

Dari kejadian pagi tadi dapat aku simpulkan bahwa Laki-laki biasanya akan lebih cepat meninggalkan istri-istrinya.

Dan wanita biasanya jauh lebih setia dari laki-laki yang telah meninggalkannya.

Terbesit satu pertanyaan yang sangat mendasar, akankah istri-istri kita kelak seperti mereka yang selalu membersihkan pusara kita setiap jumat setelah aku mendahului mereka??