Membaca tulisanku sendiri yang aku abaikan beberapa tahun ini seperti membuka bingkai-bingkai kehidupanku yang sempat teronggok di tepian kelelahan. Tak kusadari bagian dari diriku ini ada hal yang sangat rapuh, mulai menitikkan air mata, padahal ini tulisanku sendiri, aku baru menyadari betapa rapuhnya sosok yang selalu terlihat arogan di jalan, killer untuk sebagian staff di kantor, bahkan sebagian mereka gak berani menatapku.

Mereka hanya tidak tahu siapa yang sedang mereka hadapi, aku ini sosok yang lemah yang bersembunyi di balik arogansi kekuasaan. Hanya dengan ini aku mampu untuk tidak menitikkan airmata di depan mereka, hanya dengan ini aku mampu menjalankan roda perusahaan agar tidak pincang.

Seorang pemimpin harus kuat, tegas dan berwibawa, meski pada dasarnya mereka juga manusia yang memiliki sisi lain yang perlu di kenal.

 

 

Dan sekarang kembali aku mencoba menuliskan sepenggal dari perjalananku, bagian yang hilang tentang aku dan sisi lain tentang diriku yang arogan dan keras.

Aku ingin buktikan bahwa sisi lain dari diriku enak untuk di baca dan dikenali.

Aku pulang dengan sepenggal kisah yang akan terus membekas dan tertanam rapih di laci kehidupanku, aku pulang dan akan aku bingkaikan perjalanan sederhanaku dalam sebuah coretan dan ku jadikan tempat untuk berbagi dengan teman2 dunia mayaku.

Berbagi-berbagi dan berbagi, indahnya berbagi.

Ntah apakah aku masih di terima sebagai bagian dari tatanan yang mulai retak, dimana letikan kuku jari terasa perih saat beradu.

Tak bisakan suatu keadaan sesuai dengan apa yang semestinya menjadi lajuan kita, atau kah kita yang harus pasrah dan menyerahkan diri pada keadaan itu sendiri.

Awalnya aku hanya tau bahwa taka da kata lain selain berjuang keras tanpa henti, sampai akhirnya aku menemukan titik, titik dimana aku harus melambat dan meng evaluasi rangkaian huruf yang sempat aku rangkaikan bahkan sekali-kali aku sisipkan titik bahkan koma sebagai tanda baca yang terlambat aku sisipkan.

Namun inilah perjalanan, terkadang kita haris berhenti sejenak untuk meneruskannya lagi.

Dan aku pulang, pulang kedalam kedamain hatiku, kedalam sosok aku yang sebenarnya, jauh dari hingar bingar kemewahan, jauh dari arogansi kekuasaan yang selalu aku suguhkan di depan staffku atau aku yang tak pernah menerima apapun alasan keterlambatan laporan bulanan.

Aku hanya ingin menjadi sosok yang tertunduk dan mulai membenahi diriku, sempatkan sedikit waktu untuk mendengarkan keletihan hatiku dan memberi waktu sejenak pada isi kepalaku untuk beristirahat.

Aku pulang dan aku ingin mempersembahkan sebagian nilai itu untuk bagian yang tak pernah tersentuh, ujung sajadh yang masih terasa kaku bahkan kran air yang masih kuat untukku membasuh keletihan hatiku slama ini, aku ulang pulang dan menjadi diriku yang lain.