Terkadang kita kurang bisa menghargai diri sendiri, terlalu banyak member i beban, tekanan dan ambisi yang berlebih sehingga kita tidak pernah memberikan kesempatan barang sedetikpun pada jiwa kita untuk sekedar menghela nafas.

Apa yang kita cari selama ini, belum cukupkah yang kita dapatkan? Sampai kapan? Biarlah pertanyaan itu usang bersama sebagian debu yang masih menempel di telapak tangan kita yang kotor setelah seharian membela hidup yang hanya sepanjang galah ini.

Lalu kapan kita bisa mulai menghargai diri kita sendiri, beri waktu sejenak untuk jiwa-jiwa yang kelelahan menyandarkan sedikit angan angan, menarikan liukan nafas yang tersengal setelah seharian memburu nafsu.

Terkadang kita menuntut sebuah penghargaan dari orang lain, sementara kita tidak pernah menghargai diri kita sendiri, tidak pernah punya waktu untuk mendengar kelukesah jiwa yang telah letih menuruti ambisi kita. 5 kali dalam 1 hari 5 menit dalam satu waktu berikanlah waktu agar jiwa kita tenang menemukan kedamaian dalam pelukan_Nya…

Aku hanyalah bagian dari titik itu, titik yang tidak pernah lepas dari alinea-alinea kehidupan. Karena titik itu adalah pembatas antara keinginan, dan kemampuan. Sejauh mana kita mampu menyelami hati kita, sesering apa kita mendengar hati nurani kita dan semengerti apa kita akan rintihan kelelahan yang tak berkesudahan. Jadi mulailah member waktu sejenak dan biarlah jiwa yang kelelahan ini menghirup nafas kedamaian di akhir petang ataupun di penghujung malam yang sepi. Karena pada akhirnya kita hanya punya jiwa yang akan terbang bersama mimpi kita, ambisi kita dan juga ruh yang tersisa setelah berkelana didalam taman kehidupan yang fana ini.

Akhirnya juga kita pasti kembali, PASTI!!!. Tinggal masalah waktu saja kapan, dimana kita tidak akan pernah tahu. Saatnya kita berkemas, menitikkan seluruh ambisi, menyudahi nafsu yang terlalu dan kembali pada_Nya.

Dan kita akan temukan sejuta kedamaian dari sekedar, kebahagiaan dunia yang sementara ini.

I Love U All…